PATI KOTA PARANORMAL

Kota Pati adalah salah satu kota yang terletak di pesisir pulau jawa,kota ini adalah kota kelahiran saya pada era 1995. Kota ini terkenal sebagai kota yang identik dengan barang tak berwujud,maka tak heran banyak paranormal disini. Saya menceritakan sedikit mengenai pengalaman hidup saya, sejak saya kecil sebelum masuk tahjhun 2000 di Pati saaat itu ketika mbah saya masih hidup saya selalu ingat beliau selalu sholat wajib dan sunnah dan tak pernah ketinggalan. Selain itu,tak bisa dipungkiri lagi bahwa pada saat itu keluarga saya yang di Pati, istilah orang jawa memiliki "cekelan" ,yang entah darimana di dapatnya. Ada yang berwujud macan putih,cincin akik,kalung landak,dll yang semua itu diimbangi dengan hati yang suci serta agama dan iman yang kuat tertanam di jiwa ini. Ibu saya sendiri yang asli dari Pati,walaupun sudah berpindah ke kabupaten lain ikut ayah saya,tapi kebiasaan dari kecil yang taat beragama membuatnya tak hilang arah. Ada suatu problema di tahun 2003 ketika ibu saya masih beberapa tahun tinggal di daerah baru,beliau difitnah oleh salah seorang disana, saya masih sangat jelas teringat massa-masa itu ketika orang satu RT ikut melihat, mewirang-wirangkan, saat itu ibu saya tidak bersalah. Tapi tetap saja di fitnah seperti itu, jalan satu-satunya meminta pertolongab pada Allah SWT, dan beberapa warisan dari sesepuh mbah-mbah saya dari Pati. Tak ada 1 bulan,orang-orang yang ikut mendzalimi ibu saya mendapat affad/bencana dari perbuatan mereka. Saya menjadi saksi nyata atas terjadinya hal itu. Sekarang "cekelan" itu diwariskan pada saya, yang saya tak bisa sebutkan apa benda itu,yang jelas ini hanya digunakan ketika terdesak saja,ketika benar-benar hati ini terasa sakit,terlebih jika keterlaluan menyangkut soal nyawa pula. Maka tak heran,saya benar-benar berhati-hati menggunakan warisan dari sesepuh kami ini. oh iya,satu fakta unik adalah setiap orang pati memiliki ilmu masing-masing dalam artian cekelan atau kanuragan dan itu pasti,hampir 96% warga Pati memiliki,disisi lain disana aura kerohanian sangat kuat,agama yang kuat, maka tak heran kebatinannya pun juga kuat.
Bila ada kesempatan, berjalan-jalanlah ke Kota Pati Jawa Tengah. Di
sini, dunia perdukunan alias “orang pintar” diakui sebagai budaya
masyarakat yang umurnya setua peradaban Nusantara sendiri. Pemakai jasa
mereka pun tak pernah surut jumlahnya.
Pati sejak lama dikenal sebagai pusat dunia bisnis gaib. Kota ini
kondang dikenal sebagai markas besar Paguyuban Paranormal Indonesia,
yang dipimpin Eddy Rusmanto alias Boss Eddy. Wajah Kota Pati sebagai
kota paranormal juga bisa dilihat dari maraknya baliho besar yang
menawarkan jasa alternatif pemecahan masalah di beberapa sudut kota.
Padahal, kota kecil dengan penduduk kurang dari seratus ribu jiwa ini
semula lebih dikenal sebagai kota kaum pensiunan. Maklum, suasananya
adem-ayem. Gerak industri yang bergema sampai di tingkat nasional
hanyalah produk kacang garing dari dua perusahaan.
Namun, Pati di setiap akhir pekan, ratusan tamu datang dari luar.
Mereka adalah para pasien sejumlah paranormal yang buka praktek di situ.
Dari mana sebetulnya datangnya paranormal ini? Ibarat industri dodol di
Garut, satu laris yang lain ikut-ikutan, begitu pula yang terjadi di
Pati. Satu-dua orang
ngetop, yang lain ikut
nongol.
Menurut istilah mereka sendiri, hal tersebut bagian dari pengaderan.
Namun, sesungguhnya munculnya paranormal di kota ini bukan kebetulan
semata.
Pati punya sejarah panjang dengan dunia gaib nan keramat. Misalnya,
di kota ini ada makam tokoh-tokoh spiritualis kondang di Jawa, seperti
Mutamakin, Syeh Jangkung, Saridin, Sunan Kalijogo, Sunan Jafar Sodiq
(Sunan Kudus), dan Sunan Raden Mas Said (Sunan Muria). Selain itu, di
kawasan Gunung Patiayam puluhan tahun lalu berdiri perguruan yang
dipimpin Nyi Senggoropati. Tokoh yang sudah meninggal pada 1987 di usia
110 tahun ini merupakan guru bagi sebagian besar paranormal yang kini
aktif berpraktek di Pati.
Sekalipun bibit “orang sakti” bertaburan, praktis sampai sepuluh
tahun lalu paranormal di kota ini masih menjalani kegiatan mereka dengan
cara lama. Tahun 1992, pola ini mulai berubah dengan berdirinya
Paguyuban Paranormal Indonesia dan Yayasan Swakarsa, yang sama-sama
menghimpun paranormal. Paguyuban digerakkan oleh Boss Eddy, sementara
Swakarsa oleh Ki Umar. Dalam perkembangannya, Paguyuban terlihat lebih
menonjol, beranggotakan 6.000 orang, 1.300 orang di antaranya aktif
berbisnis paranormal di berbagai daerah.
Di Pati tercatat paranormal besar yang buka praktek ada 15 orang.
Yang tergolong sukses besar ada tujuh orang: Boss Eddy, Mbak Har, Mbah
Roso, Anisa Dewi, David Gombak, Dewi Sedap Malam, dan Jeng Asih. Mereka
mulai menuai sukses pada tahun 1997. Ada beberapa faktor yang membuat
nama mereka melambung. Pertama, kegiatan mereka mulai diliput oleh media
klenik. Bersamaan dengan itu, mereka tak ragu lagi beriklan. Yang tak
kalah penting, krisis ekonomi ikut meningkatkan jumlah pasien. Biasanya,
saat itu para tamu datang minta tolong agar tak kehilangan jabatan,
usaha laris, dan yang lainnya. Seiring dengan waktu, jasa alternatif
yang mereka tawarkan pun kian beragam dengan nama-nama ajian yang
menggelitik.
Rata-rata tempat hunian para dukun sukses ini paling mewah di
lingkungannya. Rumah bertingkat, perabotan mewah, serta mobil berjejer
di garasi. Boss Eddy, misalnya, setelah sukses bisa memiliki rumah
produksi, pemancar radio FM, serta pabrik obat tradisional. Bos yang
satu ini memang seperti tak akan kesulitan mendapatkan dana segar.
Setiap hari, paling tidak ada kiriman Rp 10 juta via wesel dari pasien
yang berobat jarak jauh. Angka itu belum terhitung pasien yang datang
langsung.
Rutinnya nama mereka menghiasi lembar iklan di media klenik juga
bisa dijadikan ukuran kemakmuran. Dalam setahun, paling tidak seorang
dukun sukses menganggarkan Rp 200 juta untuk belanja iklan. Angka ini
biasanya merupakan 20 persen pendapatan total mereka. Alhasil, pukul
rata pemasukan seorang dukun kondang setahunnya berkisar Rp 1 miliar.
Meski tak memberikan pajak langsung, kegiatan paranormal ini
terbukti menyulut kegairah perekonomian Pati. Bagai pulut, dukun-dukun
kondang ini mampu mendatangkan banyak tamu dari luar daerah. Dulu jumlah
hotel di sini hanya 15 buah. Saat ini sudah ada 22 hotel pelbagai
kelas. Sebagian besar tamu hotel adalah juga klien paranormal. Tamu yang
datang dari pelbagai kalangan, mulai pengusaha, artis, sampai pejabat.
Maraknya bisnis klenik di Pati ini diakui Boss Eddy sangat
membanggakan hatinya. Ia ingin Pati benar-benar jadi kota tujuan wisata
spiritual seperti halnya Gunung Kawi di Jawa Timur. Bahkan ia tak
menutupi hasratnya bila satu saat julukan kota paranormal resmi
disandangkan pada Pati. Ninik L. Karim, psikolog dari Universitas
Indonesia, menilai menjamurnya bisnis ini karena bertumpuknya soal yang
tidak bisa lagi dijawab secara rasio, serta desakan kebutuhan. Rasa tak
aman dalam hidup bagi sebagian orang perlu dicarikan jalan pintas alias
mengunjungi paranormal. Menurut Cholil Bisri, pimpinan Pondok Pesantren
Roudlatut Tholibien, Rembang, Jawa Tengah setiap masalah punya
pemecahan, tergantung seseorang memilih jalan terang atau sebaliknya. Ia
menilai fenomena ini merupakan cerminan masyarakat yang resah,
sekalipun begitu banyaknya paranormal sejatinya tak mendatangkan
kerugian ataupun keuntungan. “Manfaat mereka, ya, untuk meramaikan isi
dunia,” kata Cholil sebagaimana yang dilansir di sebuah media.
Mungkin betul, dunia butuh mereka. Saat semua jalan dirasa buntu,
umbar janji dari paranormal bisa memberikan harapan dan hiburan
tersendiri. Bagi sebagian orang, mendatangi paranormal dipercaya sebagai
upaya paling manjur. Bagi yang tak percaya, paling tidak senyum bisa
terbit kala membaca nama-nama ajaib aneka jampi yang ditawarkan para
dukun.
MEREKA YANG JADI PARANORMAL
Paranormal kini sudah jadi profesi. Kerja mereka bukan lagi sekadar
kebajikan yang cukup dibalas dengan ucapan terima kasih. Beberapa tahun
terakhir, kaum paranormal mulai menunjukkan bahwa pekerjaan ini bisa
dijalankan secara profesional, memanfaatkan teknologi telepon seluler
dan internet, serta mampu menjanjikan limpahan uang. Profil beberapa
paranormal asal Pati di bawah ini adalah cermin dunia dukun yang sedang
berubah. Inilah paranormal yang ada di Pati….
Bos Eddy Panggilan Bos di depan namanya menunjukkan
ketokohannya di jagat paranormal. Di lingkungan Paguyuban Paranormal
Indonesia (PPI), Bos Eddy alias Eddy Rusmanto, 42 tahun, disebut sebagai
Guru Besar. Sejumlah murid datang dan pergi, menimba ilmu di Padepokan
Perhimpunan Alternatif Indonesia di Pati, yang dikelolanya selama ini.
Lama dikenal sebagai paranormal yang mengubah citra dunia perdukunan
menjadi profesi modern, Eddy menabrak konvensi lama bahwa dukun tidak
boleh memasang tarif. Ia mempekerjakan empat staf yang dilengkapi lima
unit komputer agar bisa melayani pasien secara maksimal. Terobosan lain
adalah mengiklankan bisnisnya. Iklan merupakan bagian strategi.
Suhartini alias Mbak Har adalahistri Eddy, yang juga paranormal. Eddy
menghabiskan Rp 200 juta setahun untuk promosi. Belanja iklan ini
menggambarkan penghasilannya. Sekali memasang susuk, ia bisa meraup Rp 2
juta hingga Rp 10 juta. Untuk pasien asing, tarif bisa melejit sampai
angka Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Sukses di dunia perdukunan, Eddy
melebarkan bisnisnya ke usaha farmasi, stasiun radio, permainan
anak-anak, pasar swalayan mini, dan rumah produksi. Paranormal ini
memusatkan semua bisnisnya di atas lahan seluas 2 hektare. Nilai aset
usahanya sekitar Rp 6 miliar.
Bisnis miliaran ini ternyata berawal dari urusan sepele. Pada 1983,
saat Eddy masih remaja tanggung, cintanya pernah ditolak seorang gadis.
Terdorong sakit hati, Eddy mencari dukun tangguh yang akhirnya ia
temukan di Pati. Kendati perbuatan itu membuatnya diusir dari rumah.
Dalam enam bulan ia berhasil menguasai ilmu pelet. Eddy lalu berguru ke
K.H. Chambali di Serang, Banten, selama tiga tahun hingga khatam ilmu
kebal. Tak jelas apakah Eddy menggunakan ilmu pelet untuk meminang Mbak
Har, gadis sekampung berwajah manis yang kini menjadi istrinya itu.
Sejak 1986, Eddy resmi menjadi paranormal dan nekat membuka sebuah
padepokan. Ayahnya yang dulu mengusirnya serta kakaknya pernah berguru
kepada Eddy. Pasien Eddy berasal dari dalam dan luar negeri. Bos Eddy
semakin menggaungkan nama kota Pati karena mendirikan padepokan
Senggoropati, di Jl Raya Pati – Gabus 1 A setiap hari tetap ramai
dikunjungi pasien, baik yang ingin berobat alternatif maupun konsultasi
spiritual.
Sejumlah murid yang digodok dari Padepokan Senggoropati, kini
berkiprah dan melejit sebagai ahli metafisika kondang, beberapa di
antaranya membuka sanggar dan praktik di Kota Pati.
Mbah Roso Sang Pangeran Pengasih, begitulah julukan
Imam Suroso karena kemampuannya memberikan aji-aji pengasih. Kendati
baru berusia 36 tahun, ia populer dengan sebutan Mbah Roso. Selain
menjadi paranormal, Suroso menjalani profesi sebagai perwira menengah
polisi yang bermarkas di Kepolisian Wilayah (Polwil) Pati, Jawa Tengah.
Spesialisasi Suroso adalah menaklukkan hati orang, dari soal mengajuk
hati atasan agar karir tak terancam, masalah jodoh, melariskan usaha,
hingga merukunkan suami-istri. Senjata andalannya tentu bukan bedil atau
gas air mata adalah Ilmu Puter Giling. Pasiennya terdiri atas pejabat,
artis, dan pengusaha. Beberapa tokoh publik juga mengunjungi Suroso
seraya meminta sang dukun merahasiakan identitas mereka. Kelompok ini
biasanya meninggalkan kartu nama di ruang kerja Suroso setelah
memberikan kode “RHS” alias rahasia di atas kartu tersebut. Suroso
mengelola bisnisnya dengan cara modern: 10 orang pegawai membantu Suroso
menangani administrasi dan keuangan. Di kantornya ada faksimile dan
enam unit komputer yang dilengkapi internet dan
e-mail?sebagian pasien memang berkonsultasi lewat
e-mail.
Ayah dua anak ini mewarisi kemampuan supernatural dari neneknya,
Sugiyah salah satu dukun kondang di Pati pada 1976. Ia pernah mengajar
di sebuah SMP di Pati selama dua tahun sebelum beralih profesi menjadi
polisi. Ia memperdalam pengetahuannya pada Bos Eddy serta sejumlah kiai
ternama, antara lain K.H. Sahal Mahfudz dan K.H. Mustafa Bisri. Pria
yang rajin puasa
mutih dan sudah menunaikan ibadah haji ini
mengaku ilmunya tidak menyimpang dari ajaran agama Islam. Sejak 1990,
dengan seizin atasannya di Polwil Pati, ia membuka praktek paranormal
profesional di Padepokan Bumi Walisongo, Pati. Suroso meraup Rp 10
juta-Rp 12 juta per bulan dari praktek di Pati dan Jakarta.
Jeng Asih Peralihan karir Suhartini alias Jeng
Asih, 35 tahun, tidak tanggung-tanggung: dari seorang guru madrasah
sanawiah, ia ber-“metamorfosis” menjadi “Ratu Susuk Indonesia” serta
ahli membenahi organ seks kaum wanita. Dengan ramuannya, ia mengaku bisa
“menyulap” perempuan separuh baya menjadi seolah perawan tingting.
Istri Mbah Roso ini menggunakan susuk sebagai “senjata” andalannya. Dia
menciptakan susuk multiguna dari baja, emas, dan bahan logam lainnya
yang “diisi” dengan mantra dan doa untuk kecantikan, menambah potensi
seksual pria, atau menangkal santet. Suhartini memperoleh kemampuan
paranormal dari pamannya, Jupri, pada 1975. Ia juga berguru pada Bos
Eddy. Profesi guru madrasah ia tanggalkan pada 1996 karena profesi
paranormal memang lebih menjanjikan ketimbang pegawai negeri. Setiap
kali berpraktek, Suhartini melayani 30-40 pasien, baik di Jakarta maupun
di Pati. Tarif mahar alias imbalan yang dipatok Suhartini bergerak
antara Rp 200 ribu dan Rp 1 juta. Setiap bulan wanita ini mengaku bisa
mengantongi Rp 20 juta. Basis pendidikan agama Islam yang ia peroleh
saat mondok di Pesantren Maslakul Huda milik K.H. Sahal Mahfudz dan
pesantren K.H. Mustafa Bisri membuat Suhartini banyak menggali khazanah
literer Islam untuk memperkaya kemampuan paranormalnya.
Dewi Sedap Malam Krisis ekonomi tak hanya membuat
orang lari ke dunia paranormal, tapi juga melahirkan paranormal. Siti
Kasiyati, 48 tahun, adalah salah satu contohnya. Tadinya, wanita ini
mencari rezeki sebagai kontraktor bangunan di Pati dan sekitarnya.
Tatkala krisis ekonomi menghantam usahanya pada 1999, ibu tiga anak ini
tidak kehilangan akal. Siti langsung “menyulap” dirinya menjadi ahli
pengobatan alternatif. Spesialisasinya? Membenahi organ seksual kaum
wanita. Usaha baru ini terbukti laris. Sejumlah pejabat wanita menjadi
pelanggan tetapnya saban ia buka praktek di Hotel Mega, Jakarta Pusat.
Siti Kasiyati alias Dewi Sedap Malam menarik bayaran antara Rp 500 ribu
dan Rp 1,5 juta untuk setiap pasien. Sekali praktek di Pati, Kudus, atau
Jakarta, Dewi bisa mengantongi Rp 5 juta. Wanita ini juga melayani
pengobatan jarak jauh. Ia mengaku menerima sekitar 55 pucuk surat dari
pasiennya dari Papua, Ambon, Makassar, Bandung, Medan, dan juga dari
Hong Kong, Taiwan, dan Australia setiap hari. Kakak kandung Mbah Roso
ini sudah mahir memijat saraf dan meramu jamu sejak 1971. Saat bisnis
konstruksinya terhantam krisis, Suroso mendesaknya beralih
profesi–pilihan yang terbukti tidak keliru.
David Gombak Bermodalkan ijazah SMU, David Iman
Kristian, 45 tahun, pernah bekerja serabutan dan menjadi sopir angkutan.
Ia juga sempat menjadi pemadat dan hidup dengan cara tidak keruan.
Suatu ketika, seorang perempuan tua yang menumpang mobil angkutannya
tersentuh melihat keadaan David. Wanita itu, Nyonya Senggoropati,
kemudian memberinya ilmu
linuih. “Ilmu ini bisa dijadikan
duit,” David menirukan ucapan nyonya itu kepadanya. Singkat cerita,
David kemudian berguru pada si Nyonya: ia menguasai aneka aji pengasih,
ilmu putih, bahkan ilmu hitam. Tapi, hingga gurunya wafat, David tak
kunjung mampu menggunakan ilmunya untuk mencari duit. Pertemuannya
dengan seorang wartawan majalah klenik di Surabaya pada 1992 mengubah
jalan hidup paranormal ini. Wartawan itulah yang “membaptisnya” menjadi
paranormal profesional. Sejak saat itu, nama David Iman Kristian
diubahnya menjadi David Gombak. Nama terakhir ini adalah julukan bagi
keturunan Cina yang punya kelebihan. Lalu, apa kelebihannya sebagai
dukun? Ia menguasai ilmu Lamuran Anjasmara yang dipercaya dapat
mempertahankan kondisi fisik seseorang. Sekitar 60 persen pemakai
Lamuran Anjasmara adalah pesohor yang sering kita lihat di televisi.
Kini ucapan mendiang gurunya sudah terbukti. Setiap bulan ia mengaku
memperoleh jutaan rupiah dari praktek keliling di beberapa kota besar.
Separuh penghasilannya ia gunakan untuk membayar iklan di media massa.
Mbah Yitno Pensiunan pegawai negeri ini masih
tipikal dukun masa lalu yang pantang meminta bayaran. Prayitno (nama
lengkap Mbah Yitno), 56 tahun, tak mematok tarif jasanya. Berapa pun
pemberian pasien dia terima. Tak mengherankan, dia lebih sering menerima
uang pas sebesar Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu di tempat prakteknya di
Kampung Dosuman, Kelurahan Pati Timur. Yitno hanya meminta pasiennya
membayar bila servis yang dia berikan adalah pemasangan susuk?yang harga
materinya memang mahal. Pasien Prayitno tersebar hingga jauh ke luar
Pati. Namun, teknologi komunikasi modern memungkinkan Yitno membaca
mantra dari jarak ribuan kilometer dengan medium (segelas air putih).
Soal jodoh, karir, usaha, dan keturunan adalah spesialisasinya sejak
Prayitno menjadi paranormal pada 1991.
(Sumber: TEMPO dan berbagai sumber lain di media massa).
@wongalus,2010