Kejamnya Sebuah Pilihan
SD? SMP? hmmm itu adalah masa dimana sekolah hanya sekedar berangkat dan sekedar berangkat,dimana datang dan pergi, sebelum ujian sudah tahu soalnya,hmmmm. itu duluu.... semenjak SMA? SMA mulai berubah pola pikir,mulai dengan hal-hal baru,mulai mengenal teman wanita :D serta mulai bawa motor sendiri. tahu sendiri kan anak SMA itu gimana? yaa betuul,masa SMA adalah masa dimana pencarian jatidiri, motor dipretheli,dimodifikasi,dibuat segaul mungkin,tidak saya pungkiri itu adalah benar adanya, saya sendiri melakukan hal itu...
ini adalah bukti nyatanya...
hehehe,apakah kalian percaya gaes itu modifikasi untuk anak SMA? tentu bukan,itu adalah motor tetangga saya yang dibuat untuk sekedar senang-senang,dalam artian hanya untuk freestyle saja, motor ini harganya 500 ribu loooo
hehe,jangan berfikiran negative dulu gaess,pada era tahun 2010 an memang trend modifikasi motor sangat heboh di kabupaten Boyolali. akan tetapi modifikasi yang saya lakukan adalah elegant,seperti plat nomor yang bisa terbaca,dan pretehelan motor norak juga sih kalo direnungin sekarang :D
Kembali membahas masa SMA, di SMA selama 3 tahun adalah waktu yang bisa dibilang belum cukup untuk menemukan jati diri. kelas 3 SMA adalah moment dimana Ujian Nasional dan masuk perguruan tinggi negeri. UN saya lewati dengan berbagai usaha,seperti ikut les pemadatan pelajaran di sekolah selama berbulan-bulan,ditambah lagi les di Ganesha Operation Boyolali. saat itu motor sudah ganti menjadi.....
yups benar,Honda supra x 125 R CW. pulang dari SMA pkl.13.30 WIB langsung les di G.O Boyolali pulang magrib,begitu terus ,hujan panas sudah biasa. orang tua saya sampai melihat saya kasihan,untungnya saya adalah tipe orang yang sangat tidak tega melihat motor saya kotor,setiap kotor selalu say bersihkan,tak memandang waktu....sampai sekarangpun teman-teman saya heran dengan saya karena dibilang rajin...karena menurut saya,orang tua saya sudah memberi amanat pada saya untuk dipasrahi motor baru dari dealer, dimana amant itu adalah sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan apapun...makanya saya pegang erat amanat itu.kembali ke masa les,mejelang UN, semua teman-teman saya pusing,bahkan adapula yang stress,tapi semua berlalu dengan begitu cepatnya dan kamipun lulus UN.sebelum lulus UN ada beban batiniah pada diri saya waktu itu,saat itu selama 6 semester di SMA,saya masuk ranking 5 besar hanya sekali dan itupun semester 1,setelah itu ranking saya meloncat-loncat tidak jelas, bapak saya sudah meng-ultimatum saya bahwa saya tidak mungkin bisa Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu secara spontan saya merasa tertantang untuk membuktikan bahwa bapak ibuk saya untuk membiayayai saya sekolah selama ini tidak sia-sia,maka dari itu saya mencari-cari info perguruan tinggi,lalu jalur undangan dibuka,dulu namanya PMDK. Saat itu dibenak saya hanya bagaimana caranya saya bisa diterima di PTN. Akan tetapi saya sadar bahwa nilai saya sedang-sedang saja,berkat bantuan G.O,doa bapak ibuk,solat malam,serta kebetulan fisik saya juga mumpuni,dengan tinggi 170 Cm,berat:60 kg,saat itu,saya mendaftar di UNDIP dan Brawijaya,saat itu saya sudah bulat untuk memilih yang berbau perikanan kelautan,bukan karena berminat atau memang bagaimana,melainkan saya berfikir tentang nilai saya yang sekiranya diterima,dan semenjak itu pengunguman hasil SNMPTN undangan masih 1 bulan lagi setelah UN,maka saya mencari cadangan untuk jaga-jaga andaikan saya tidak lolos.saya mendaftar di IKIP PGRI semarang prodi biologi dan diterima,sudah membayar 5 juta rupiah,lalu mendaftar AKPELNI Semarang jurusan nautika,juga diterima sudah membayar 18 juta rupiah,lalu AKPN jogja diundang untuk langsung diterima,sejujurnya saya suka di sekolah berbau militer,karena yang pertama adalah berpakaian rapi,memiliki aturan yang jelas,semster 1 potongan rambut ini, semester 2 ini....dst.tapi apa daya? menjelang pengunguman SNMPTN undangan,saya buka internet dan.......diterima di UNDIP prodi Budidaya perairan,,saat itu saya bilang pada orang tua saya,meraka senang sekaligus bingung,semua yang saya daftar diterima,hanya saja di IKIP PGRI dan Akademi Pelayaran Niaga Indonesia(AKPELNI) adalah swasta,dengan berat hati saya mengundurkan diri dari sana dan uang dikembalikan 14 juta dan 4 jutanya berupa seeragam lengkap yang AKPELNI,sedangkan untuk IKIP PGRI itu hangus semua 5 juta. bahkan bapak saya pun meminta maaf pada saya karena tidak dapat membiayai biaya selajutnya untuk yang di pelayaran,bapak saya tahu kalo saya sliweran dari Boyolali-Semarang tanpa orang tua,belum punya SIM,KTP juga belum pada saat itu. tapi tidak masalah buat saya,niat krono ati adalah kuliah di negeri dan saya memilih UNDIP.
selama 1 semester di UNDIP saya merasa ini bukan tempat saya,saya tidak nyaman disini,sempat bertengkar denga orang tua,dan akibatnya adalah IP saya hanya 2,64 pada semester 1. pada semster 2 saya mulai bangkit dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil yang terbaik,dan alhamdulillah IP saya 3,05. satu hal berkesan di fakultas perikanan ini adalah membutuhkan mental yang kuat untuk menhadapi rangkaian sistem untuk mendapat tittle sarjana perikanan(S.Pi) untuk saya tidak maslah,hanya saja hal yang mebuat saya ingin berontak adalah terlalu bebasnya dunia mahasiswa,tak ada aturan yang harus tepat dilakukan,menyemir sepatu,lari pagi,push up,sit up,dan lain-lain.terkadang membuat saya rindu pada dunia militer. tapi saya sadar,ini dunia saya,perikanan adalah dunia saya,dunia militer tetap saya gunakan di dalam hati saya,sikap korsa,senasib sepenanggungan,filiosofi-filosofi yang tetap saya pegang erat. sejujurnya adalah lulus dari UNDIP ini saya ingin menjadi PNS. Baik di KKP,kantor lingkungan hidup,atau instansi pemerintah lain yang terpenting adalah PNS yang sudah diangkat dan memiliki NIP. selanjutnya filosfi saya hanya seperti menteri kelautan perikanan yang baru, Bu Sri Pudjiastuti, "Mengalir saja seperti air"
meneruskan adat keluarga sebagai PNS.
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNDIP













